Tampilkan postingan dengan label CERPEN (cerita kehidupan). Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CERPEN (cerita kehidupan). Tampilkan semua postingan

Dengar Pendapat

, 2 komentar

Label:

Wajah keruh Anggun menandakan betapa teruknya keadaan yang ada dalam pikirannya, otak, dan mungkin emosinya. Anggun, mungkin hanya namanya saja, dalam kesehariannya tak satu pun yang terlihat anggun di mata rekan, tetangga juga keluarganya.

Jeans kumal yang mungkin hanya seminggu sekali dicuci selalu membungkus tubuh indahnya. Kaos oblong warna kuning (entah berapa helai dia punya atau mungkin hanya dua helai, satu cuci satu pakai), menjadi baju kebesarannya. Runyam, acak-acakan penampilannya namun tak ada orang yang tak memuji kecantikannya. Tanpa polesan bedak dan sapuan warna-warni eyes shadow, toh wajahnya tetap ayu.

Mungkin hanya Anggun sendiri yang tak menyadari akan kecantikan yang dia miliki. Lho kok bisa? Nyatanya sampai pada usianya yang sudah melebihi kepala tiga masih juga sendiri belum ada cowok yang mendampinginya. Eiiit salah!!! Kalau masalah cowok, di kanan, kiri, depan, belakang, semua cowok karena dia lebih suka berteman dengan cowok daripada cewek.

Dalam ruang kerjanya yang lebih mirip dengan tempat pembuangan kertas, jemarinya lincah menari menekan tiap hurup yang ada di papan kekunci, orang Melayu bilang. Kedua alisnya nampak berkerut, itu tandanya pikirannya semrawut. Sesekali nampak mulutnya monyong, itu pertanda dia lagi marah. Semua orang di sekitarnya hapal dengan itu.

“You got mail!!” Suara komputer Anggun yang berjenis kelamin perempuan. Nggak percaya? Lha, nyatanya suara tersebut suara perempuan kok!

Hi cantik!! ( meski aku nggak tahu wajahmu ) tapi aku yakin kamu pasti cantik dan anggun..ha..100x. Pasti lagi kumat, iya kan..? Ngaku aja dehhh..!! Soalnya kamu ingat aku kalau lagi kumat, don’t be angry.. Aku dah baca emailmu, sampai kapan sih kamu tak mahu membuka diri untuk dikritik, dicaci dan dihina..? Meskipun itu semua sangat, sangat menyakitkan seperti katamu toh tidak semua kritikan, hinaan dan cacian itu bertujuan menjatuhkan. Nggak ada orang sempurna di dunia ini cantik.. .( eh kamu cantik apa enggak sih..), anggap semua itu sebagai cambuk. Pernah lihat pacuan kuda nggak..? Kuda nggak bakalan lari kencang kalau tidak dicambuk. Kuda itu sama seperti kita, dia juga merasa sakit, itulah sebabnya dia akan berusaha lari sekencang mungkin agar secepatnya bisa ke garis finish. Karena ingin menang..? Tidak…!!! Karena kuda nggak bakalan ngerti siapa menang siapa kalah, yang dia inginkan hanyalah secepatnya menyelesaikan perlombaan agar tak dicambuk lagi… karena itu sakit.

Jujur saja kukatakan, aku juga sependapat dengan boss kamu itu. Eiiit tunggu dulu..! Itu bukan berarti aku setuju dengan saran boss kamu untuk menghentikan acara Dengar Pendapat.
Sebenarnya topik yang kalian sajikan cukup OK, cuma mungkin.. just maybe… nara sumber yang kalian boyong kurang tepat. Eh.. jangan delete dulu, aku belum habis nulis..!!! OK sori..!! marah..? Begini, nara sumber yang kalian tampilkan tidaklah terlalu buruk sangat, mereka OK banget. Mereka orang terkenal, publik figur, berpendidikan dan sebagainya, cuma kadangkala pendapat yang mereka sampaikan terlalu angel dimengerti alias mbulet. Bagi pemirsa yang sekelas dengan mereka tentu saja OK sebab mereka mempunyai cara pikir yang sama, punya teori yang sama, tapi coba kamu pikirkan pemirsamu yang cuma bisa nulis namanya doang, yang tanpa dilatar belakangi pendidikan yang cukup, opo yo mudeng..? Mereka pasti akan ganti chanel lihat dangdutan yang lebih menghiburkan..he..he..nah kan, kamu pasti nyegir..!
OK lah cantik..! aku nggak bisa nulis panjang sebab ada pasien yang lebih parah dari kamu, jangan putus asa..! Aku yakin kamu bisa..!

Wajah Anggun kelihatan sumringah, ada senyum di bibir sensualnya. Secepat kilat dia melesat keluar, yang lain cuma bisa tersengeh melihat Anggun.

“Bukan Anggun kalau menyerah. Pasti ada ide gila di otaknya.” Anggun berhenti mendengar komen tersebut, dipalingkan wajahnya dan dihadiahkan senyum termanisnya

“Jangkrik!! Kalau saja aku masih bujang tak uber kowe, Nduk Cah Ayu!!” Anggun cuma mencibir, dia melangkah ringan. Ada kejutan besar yang bakal dia ledakkan di stasiun TV SSK ( Suka Suka Kita.)

oooOooo

Tiga orang tamu sudah duduk di kursi, bukan profesor, bukan ahli politik, bukan publik figur dan juga bukan bisnisman. Mereka hanyalah rakyat kecil yang Anggun kenal di depan studio, Kang Kosim penjual bakso, Manan si tukang parkir, dan Budi pengamen jalanan.

“Emang kita mo ngapain sih, Mbak?”

“Yaa.. ngobrol-ngobrol saja Kang.”

Anggun mulai memandu acara tanpa selembar kertas. Tidak ada pilihan buat Anggun, dia harus jalan terus dengan rencananya tanpa adanya pembawa acara yang biasa memandu cuma karena dia tak setuju dengan ide Anggun yang akan menampilkan orang-orang kecil sebagai bintang tamu dalam acara Dengar Pendapat.

Aku bisa.. aku bisa, bisik hatinya. Semua sudah diatur sedemikian rupa sehingga kamera tidak terlihat oleh para tamu dan Anggun tampil seperti Anggun yang ada, tanpa tatanan rambut, tanpa make up. Cuma kali ini kaos kuning kebesarannya ditutup kemeja kotak-kotak pinjam teman sekantornya.

“Sampeyan semua nggak keberatan tho kalau kita duduk-duduk sebentar di sini? Kita tukar pendapat dan pengalaman. OK, menurut sampeyan ada nggak perbedaan hidup di Orba dengan sekarang ini?” Anggun mulai memancing

“Alaa Mbak, orang kecil macam kita semua nggak ada bedanya. Sopo-sopo sing dapuk Presiden, apapun nama kabinet, toh dari dulu sampai sekarang tetap aja hidup begini.
Reformasi? Apanya yang direformasi, lha wong nyatanya kita yang hidup di pinggiran semakin tersisihkan, betul nggak?” Kang Kosim mulai mengeluarkan uneg-unegnya

“Apa ya mudah menghapus KKN yang sudah mengakar dan sepertinya sudah menjadi budaya baru di negeri kita? Ha..ha..ha.. Tidak semudak membalik telapak tangan. He..he.. Koyo wong pinter aku yooo, Man? Yang paling keras berteriak biasanya dia yang paling getol korup. Ha..ha..!!” Tawa mereka lepas di seluruh ruang studio dan membahana di setiap rumah di negeri mereka, mereka seakan mengejek.

“Kami ini tidak terlalu muluk-muluk berangan, Mbak, yang penting periuk nasi kami nggak kering. Lho kadang saya bingung sendiri lo, Mbak.” Maman berhenti bicara, duduknya resah sesekali digosok tangannya.

“Dingin yo, Kang?” Maman menoleh ke arah Kosim

“Iya, dan rasanya kok nggak nyantai kalo ngobrol duduk di kursi. Seperti orang rapat aja. Njagong di tikar lebih enak yo, Man?” Dan akhirnya merekapun menggelar tikar di sudut dan melanjutkan obrolan mereka. Dan kali ini bukan mereka yang tertawa tapi pemirsa di depan layar kaca yang terpingkal-pingkal.

“Tadi Kang Maman mau ngomong apa kok bingung?” Anggun kembali menggiring mereka ke pokok perbincangan.

“Ya bingung to, Mbak. Konon katanya negeri kita negeri agraria, kok bisa sampai mendatangkan beras dari luar negeri, kedelai dari luar negeri. Apa negeri kita sudah tidak lagi gemah ripah loh jinawi? Apa tanah kita sudah kehilangan kesuburannya, atau mungkin petani kita sudah nggak mampu membeli pupuk. Nah, aneh dan membingungkan kan?” Anggun cuma tersenyum. Aahh, ternyata tidak sulit menggiring mereka , tanpa ditanya pun mereka lancar ngomong apa yang ada dalam pikiran mereka tanpa buku politik, tanpa buku ekonomi, tanpa buku tantang bisnis. Karena mereka melihat dan merasa dari kaca mata mereka tanpa harus berpegang pada pakem-pakem ilmu yang tertulis dalam buku.

“Sepertinya sudah tidak ada lagi komoditas ekspor yang bisa kita handalkan lagi yo, Man,” Kang Kosim berkesimpulan

“Eh siapa bilang, Kang? Lha pengiriman wanita-wanita ke luar negeri apa itu bukan ekspor?” Budi yang dari tadi berdiam diri mulai angkat bicara.

“Hasil devisanya besar loo. Betul kan, Mbak?” Budi memberi pendapat tanpa beban.

“Apa tidak terlalu kasar menyamakan beliau-beliau dengan barang ekspor?” Anggun berusaha membenahi kalimat Budi.

“Maaf lho, Mbak, bukan berarti saya menyamakan kaum Mbak dengan barang, bukankah sesuatu yang menghasilkan devisa itu namanya hasil ekspor? Saya ini orang bodoh nggak tahu istilah yang lebih tepat.”

“Mereka adalah PAHLAWAN DEVISA NEGARA loo, Bud,” lanjut Anggun.

“Walah-walah Mbak, sebutan itu terlalu tinggi dan sepertinya hanya pemanis saja. Kalau pemerintah benar-benar menganugerahi mereka dengan bintang kepahlawanan, seharusnya di terminal tiga sana dibentang karpet merah buat mereka, walau sebenarnya bukan itu yang mereka minta. Meskipun tidak ada karpet merah dan kalungan bunga setidak-tidaknya mereka dilayan dengan baik dan dihormati. Ora usah ruwet-ruwet banyak aturan yang mencekik dan mempersulit mereka.” Budi begitu berapi mengutarakan pendapatnya.

“Apa memang separah itu yang namanya terminal tiga Bud?”

“Itulah yang sering saya dengar dari para tetanggaku yang baru pulang dari luar negeri. Kalian tahu kan, desaku adalah basis TKI. Jadi sedikit banyak saya tahu tentang itu. Alasan pemerintah sih buat keamanana dan kenyamanan mereka. Alasan yang klasik!! Sudah basi dan tidak bergaransi. Dengan menggiring mereka para TKI yang baru pulang untuk masuk ke teminal tiga sudah jelas adanya langkah-langkah diskriminasi. Pulang ke negeri sendiri kadang mereka merasa ketakutan loo, Mbak!” Budi diam sejenak.

“Kalau Mbak Anggi tadi bilang mereka Pahlawan, seharusnya tidak ada lagi JALUR KHUSUS TKI, tidak ada lagi permeras berbaju seragam yang selalu menjadikan TKI kita sasaran empuk, tidak ada lagi peraturan-peraturan yang mencekik mereka.”

“Betul kowe, Bud, aku sependapat.” Maman memberi semangat dan tanpa mereka tahu berjuta pasang mata pemirsa di rumah memberi tepukan, tanpa mereka sadari ucapan-ucapan mereka telah meng-KO sebagian pemirsa di luar sana.

“Jadi menurut sampeyan semua langkah pemerintah membangun terminal tiga ibarat membuat dinding pemisah antara mereka yang berstatus TKI dengan mereka yang baru pulang berbisnis atau mereka yang baru pulang menghamburkan rupiah di negeri lain?” Anggi berusaha memancing lebih dalam lagi dengan harapan mendapat ikan besar yang lebih mengejutkan.

“Sulit deh Mbak menjawabnya. Takut salah ngomong, walau pada dasarnya saya memang kurang berkenan dengan adanya terminal tiga. Jadi ingat kejadian setahun yang lalu ketika keponakan saya pulang cuti bersama bosnya,” suara Budi mengambang matanya memandang jauh.

“Emang kenapa, Bud?” Hampir bersamaan mereka bertanya demikian juga pemirsa semakin antusias ingin mendengar jawaban Budi.

“Ya karena adanya terminal tiga itulah mereka jadi terpisah. Lha, para petugas di sana memaksa keponakan saya masuk terminal tiga sedangkan bosnya lolos keluar lewat jalur biasa. Apa nggak menyulitkan dan melukis keburukan kita sendiri di mata orang asing?”

“Oooooh gitu.”

“Kalau Mbak Anggun menanyakan hal tersebut pada saya. Ya maaf aja Mbak, saya nggak berani jawab. Biar beliau-beliau yang pinter yang mencernanya, siapalah kita ini, Mbak? Terlalu tinggi kalau kita ikut mikir apa itu sistem pemerintahan dengan berbagai macam undang-undang. Apa itu politik dengan segala macam taktik yang unik, antik bahkan mungkin licik. He..he… Bukankah mereka yang duduk di kursi parlemen sudah dibekali ilmu yang mumpuni? Lihat saja embel-embel di depan dan belakang nama mereka, sampai-sampai saya nggak mudeng bila ditanya adik tentang titel mereka. Ha..ha.. bener looo, Kang Kosim.” Yang ditanya cuma ngakak. Anggun pun tak bisa membendung tawanya walau sebenarnya dia tak tahu apa sebenarnya yang mereka tertawakan.

“Sebenarnya kita ini mentertawakan apa dan siapa sih?” Akhirnya pertanyaan konyol itupun keluar dari mulut Kang Maman. Bukan jawaban yang dia dapat melainkan tawa dari mereka yang ada di situ.

“Sudah-sudah!! Jujur kita ini mentertawakan apa?” Anggun juga dalam kebingungan.

“Lho, jadi Mbak Anggun juga bingung too?” Budi menahan batuk sambil memandang ke arah Kang Kosim dan Maman. Yang dipandang cuma angkat bahu sambil cengar-cengir, mereka saling pandang dengan mimik lucu dan tawa mereka pun tak bisa ditahan, bergema di seluruh stasion TV SSK, membahana di seluruh rumah warga yang ikut tertawa, di gang-gang sempit mereka tertawa menang karena ketiga wakil mereka telah menyuarakan sekelumit keinginan mereka sebagai warga kelas bawah walau sebenarnya keinginan mereka segunung.

oooOooo

“Jangan dimatikan Pa! Kita hayati makna tawa mereka, mungkin hanya dengan tawa mereka kita bisa membaca diri kita. Memang sakit, karena tawa mereka seakan mengejek kita. Kita yang seharusnya menjadi penyambung lidah mereka ternyata hanya mampu menganalisa dan mencerna suatu masalah dengan berpatokan teori belaka, kita gagal menyelami keinginan mereka.” Sepasang suami istri yang duduk di parlemen saling memegang tangan. Haruskah mereka marah dan tersinggung? Mereka pun ikut tertawa.

“Kita ini ternyata hanyalah badut politik yang patut ditertawakan ya, Ma?”

Sang atasan menyalami Anggun dan ketiga tamu orang pinggiran yang telah mengisi acara dengar pendapat.

“Kalian telah mengukir sejarah di stasiun kita ini, rating kita naik menandingi semua best acara dari TV lain. Selamat yaaa dan terima kasih.” Anggun cuma tersenyum dan menatap ketiga tamunya.

“Terima kasih buat kalian bertiga dan maaf karena saya tidak memberi tahu kalian sebenarnya obrolan kita tadi disiarkan secara langsung, maafkan saya. Dan saya siap seandainya sampeyan marah,” suara Anggun penuh penyesalan.

Kosim, Maman dan Budi terdiam, dahi mereka berkerut dan saling bertukar pandang. Beberapa saat suasana nampak tegang, wajah ayu Anggun semakin keruh.

“Kita masuk TV, Man! Kita masuk TV!!! Ha..ha..ha..!” Mereka berlonjak gembira, saling berpelukan. Anggun merasa lega, beban batinnya terlepas melihat tawa mereka. Mereka orang pinggiran yang sangat lugu dalam berpikir.

“Mbak, ada kiriman bunga.”

“Buat saya? Dari siapa?” Terperanjat juga Anggun, inilah untuk pertama kalinya ada orang yang mengirim bunga. Dibacanya kartu mungil tanpa nama pengirim

“Hi Cantik, kamu tenyata cantik!”

Mata Anggun berbinar, ada sinar bahagia terpancar. Diciumnya bunga itu dengan penuh perasaan, bunga kiriman dari orang yang dia kenal hanya lewat internet. Orang yang selama ini menganggapnya sebagai pasien yang butuh seorang dokter.

Waktuku Telah Usai

, 2 komentar

Label:

“Suara, dengarkanlah aku, apa kabarnya pujaan hatiku. Aku disini menunggunya masih berharap di dalam hatinya…

“Suara dengarkanlah aku, apakah aku ada dihatinya. Aku disini menunggunya, masih berharap di dalam hatinya…

Mentari perlahan turun dari peraduannya saat aku dengar desau angin yang berhembus. Sayup-sayup telingaku mendengar suaramu memanggilku saat kututup tirai jendela kamarku. Bagai seekor anak kucing kehilangan induknya, aku mulai mencari arah suaramu. Tapi, yang kutemui hanyalah sunyi yang tenggelam di keramaian senja itu. Perlahan aku bangkit, ayunkan langkahku keluar dari kamar yang penuh dengan kenangan indah tentangmu. Mencoba menghirup udara segar yang tlah hilang kurasakan, agar pikiranku menjadi jernih, walaupun dipenuhi oleh bayangmu dan keinginanku yang hanyalah sebuah impian.

Melihat keramaian di luar sana, bangkitkan semangatku ‘tuk kembali ayunkan kaki. Aku ambil kunci kontakku, aku naik sepeda motorku tercinta, menstaternya dan mulai melaju tinggalkan rumah yang kurasa penat sudah. Angin mulai menerpa wajahku, serasa membelai penuh rindu. Saat itu tujuanku hanya satu, aku ingin membuang penat ini, aku ingin teriakkan namamu yang t’lah penuhi rongga dadaku, aku ingin… ah.. aku ingin air laut bawa rinduku yang membuncah kepadamu. Aku ingin ia sampaikan betapa rindunya dan sakitnya hati ini t’lah bercampur, apalagi saat harus ku hadapi kenyataan, bahwa waktuku dengan mu telah usai. Namun aku tetap harus tegar, aku harus tetap kuat agar kehidupanku tetap berjalan dengan apa adanya.

Akhirnya, air laut yang kutuju terpampang di depan mata. Segera kuhentikan motorku, dan aku berlari penuh rindu menyongsong ombak kecil di sore itu, bagaikan kerinduanku yang tak kan pernah terobati akanmu. Segera saja kakiku mulai tersapu oleh bulir-bulir buih yang menepi, mendinginkan kaki yang jua ikut gerah karena lelah pikirkanmu. Aku tak peduli dengan sekelilingku, mereka asyik bermain dengan pasangannya, ataupun keluarganya.

Aku berteriak. Semakin kakiku melangkah maju ke tengah laut, semakin lantang suara ini panggil namamu. Ombak datang menyambutku. Hingga pinggangku tenggelam olehnya aku tak peduli. Aku hanya ingin teriak, teriakkan namamu, teriakkan rinduku, teriakkan luka hatiku, teriakkan sayangku, dan teriakkan keinginanku yang hanya tinggal sebuah keinginan. Dan ketika aku lelah berteriak, kutemui bulir airmata t’lah warnai pipiku sore itu. Aku makin lelah, karena aku sadar, sampai tak mampu bersuarapun, kau tak kan pernah tau. Kau tak kan pernah mengerti semua rasa ini, dan betapa aku ingin sekali menghilangkan rasa itu, betapa aku ingin menyudahi semua angan semu yang t’lah terjalin rapi di hatiku. Namun aku tak pernah mampu dan tak jua kau ijinkan. Ah….

Aku terpaku, terdiam di tempat di mana aku lelah teriak. Laut ini seakan menjawab penatku. Ia mengerti, betapa kecewa yang ada, t’lah ikut ia rasakan. Ah… andai saja kau hadir di sini, memelukku penuh kasih agar aku bisa tenang, ikut pula rasakan kegalauanku tanpa kau harus merasa takut dengan rasa yang aku punya, betapa itu sudah cukup buat jiwaku damai, bahwa kau pun mengerti, walaupun kau tak bisa penuhinya karena kau lebih memilihnya.

Dia yang kau bilang lebih bisa mengerti kamu, lebih mau berkorban apa saja untukmu, dan hatimu telah tertambat olehnya. Dan itu telah merubah semua yang ada pada dirimu, merubah segala yang ada pada kita. Aku menyadarinya. Bahwa waktuku denganmu benar-benar telah usai. Seperti permintaanmu di mimpiku. “Setahun saja ya..”. Ah..

Aku berusaha ikut menjauh, karena kau t’lah membentangkan seutas tali di antara kita. Membentangkan jarak yang tak kuasa aku cegah. Namun permintaanmu.. aku tak kuasa menolaknya. Tahukah kau, jantungku serasa berhenti berdetak, nafasku tak menghirup udara apapun, saat kau minta aku tetap menjadi temanmu, sementara kau tahu, betapa hati ini, yang t’lah tertambat olehmu, menyadari kau lebih ingin bersamanya.

Aku tak pernah habis berpikir, bagaimana aku sanggup penuhi permintaanmu, bila tiap kali berada di dekatmu hanya perih yang kurasa. Perih yang sebabkan aku tak lagi bisa mengerti dan memahamimu, hingga buatmu tak lagi merasa nyaman berada di dekatku. Perih yang jua terbalut dengan bahagia bahwa kau masih ijinkanku ‘tuk menjadi bagian luar dari kehidupanmu.

Ah… memikirkanmu dan rasaku, membuatku tak sadar, ternyata mentari t’lah cukup lama menghilang, dan malam mulai menjelang. Aku bergegas tinggalkan laut, tinggalkan seluruh kepenatan dan resahku bersamanya, agar aku bisa kembali tertawa dan ceria, meskipun telah tergores hati ini. Hh.. beban ini memang masih ada, tapi ia telah berkurang cukup, hingga buatku mampu mencerna tentang apa yang pernah kau sampaikan dulu, “Janganlah kau bunuh sayangmu, tapi cukuplah kau bersyukur bahwa kau masih punya aku sebagai temanmu”.

Teman.. memanglah abadi. Seperti halnya sayang, ia juga abadi. Aku harap, sayangku ini juga bisa abadi, sperti pintamu dulu…

Dirimu dihatiku tak lekang oleh waktu, MESKI KAU BUKAN MILIKKU
Intan permata yang tak pudar, tetap bersinar, mengusik kesepian jiwaku…
Tak lekang oleh waktu….

    Labels

    Followers

    Please Comments Here

    Name :
    Web URL :
    Message :
    :) :( :D :p :(( :)) :x

    My Album

    Sekarag Tanggal Berapa Yaaa....

    Supported By :

    Cari Blog Ini

    Jam Berapa yaa....

    Lencana Facebook